Copyright © 2010 LIVERPUDLIAN BANDUNG All Rights Reserved.
Website powered by Blogger and Trily Blogger theme designed by TopTut.com & Converted by Ritesh Sanap.

Pages

Friday, July 30, 2010

’Keong racun’ pun mendunia


Fenomena ’Keong racun’ ternyata tak hanya ramai dibicarakan di media lokal Indonesia. Kini, duet lipsync lagu Keong Racun tersebut, Sinta dan Jojo juga ramai diberitakan media asing. Tak kurang, situs berita Inggris, ’The Independent’, memberitakan fenomena ’Keong Racun’ yang Kamis kemarin kembali menjadi trending topic nomor satu sejagat di situs mikroblog Twitter. Foto Sinta-Jojo yang sedang melenggak-lenggok genit di Youtube, juga dipajang di laman Independent.

”Pengguna Twitter tergila-gila ’Keong Racun’ di Youtube,” demikian ditulis ’Independent’. Tak kepalang tanggung, di Twitter ’Keong Racun’ mengalahkan topik pesaingnya seperti onetimefor don coutonit, predictingkanyetweets, dan bahkan juga ’Interception’, film box office Hollywood yang diperankan Leonardo Di Caprio.

Video lipsync ’Keong Racun’ yang menggelikan itu berawal dari keisengan Jojo (Jovita) dan Sinta, keduanya mahasiswa sebuah universitas swasta di Bandung. Kini, dua mojang Priangan itu mendadak tenar di seantero jagat. Aksi kocak mereka telah mendongkrak popularitas lagu dangdut ’Keong Racun’yang diciptakan oleh Subur Tahroni. Total, ada enam video klip yang dibuat Jojo dan Shinta.

Selain ’Keong Racun’, juga ’Cinta Satu Malam’, ’Slow Down’, ’Dokter Cinta", "Jangan Lebay," dan "Telephone". Semua,mereka rekam di rumah Jojo, cukup bermodalkan webcam di laptop dan aksi lenggak- lenggok yang genit dan kocak.

Sedangkan Jovita Adityasari alias Jojo (19) mengaku tak menyangka lagu Keong Racun yang dinyanyikan lipsync bersama Shinta temannya, bakal menjadi buah bibir di dunia maya.

Pasalnya, mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional (HI) FISIP Universitas Pasundan (Unpas) angkatan 2008 ini hanya sebatas iseng saat merekam aksinya dan di-upload dalam situs youtube. "Awalnya sih hanya iseng. Saya dengan Shinta kan sudah berteman sejak dari SMA.

Kemudian sekitar satu bulan lalu, saya iseng merekam adegan nyanyi berdua denga Shinta di rumah saya di Cimahi. Suaranya sih suara penyanyi aslinya. Kita hanya lipsync saja," kata Jojo.

Setelah merekam adegan nyanyi berdua itu, Jojo kemudian berencana meng-uploadnya via jejaring sosial Facebook. Ternyata, ukuran videonya terlalu besar. Akhirnya, lanjut Jojo, atas saran temannya, ia kemudian menguploadnya lewat situs Youtube.

Menteri: Jangan Sebut Mereka Gendut, Mereka Gemuk!

London (ANTARA/Reuters Life!) - Menyebut orang gemuk dan bukan gendut akan lebih mungkin untuk memotivasi mereka menurunkan berat, kata menteri kesehatan masyarakat Inggris.

Para dokter dan pekerja kesehatan juga sangat khawatir dengan penggunaan istilah "gendut", kata Anne Milton. Tetapi melakukan itu dapat membantu mendorong orang memikul tanggung jawab pribadi mengenai gaya hidup mereka sendiri.

"Jika saya memandang cermin dan mengira saya kegemukan, saya kira saya tak terlalu khawatir (daripada) jika saya mengira saya gendut," kata Milton, mantan perawat, kepada stasiun radio BBC. "Pada akhirnya, kamu tak dapat melakukan itu terhadap mereka. Orang harus memiliki informasi."

Inggris memiliki salah satu angka kegemukan tertinggi di Eropa, dan tingkat tersebut telah secara tetap naik selama 10 tahun belakangan. Pada 2008, hampir seperempat orang dewasa dan 14 persen anak-anak dikategorikan kegemukan, demikian data dari Departemen Kesehatan.

Meskipun Steve Field dari Royal College of General Practitioners menyambut baik komentar Milton, Field mengatakan para dokter perlu lebih jujur kepada pasien mereka dan bukan memberitahu mereka apa yang ingin mereka dengar, Sebagian kelompok kesehatan memperingatkan agar istilah itu tidak digunakan.

"Orang tak ingin diserang. Ada banyak aib menjadi orang gendut," kata Lindsay Davies, presiden Faculty of Public Health di Inggris, yang mewakiliki profesional kesehatan masyarakat.

"Kegemukan adalah sesuatu yang terjadi pada manusia dan bukan sesuatu yang mereka alami."

Kegemukan tidak hanya mengganggu penampilan, tapi juga mengancam kesehatan.

Orang Asia yang kelebihan berat badan atau kegemukan lebih mungkin untuk meninggal akibat kanker dibandingkan dengan orang yang memiliki berat normal, demikian hasil satu studi besar di Asia.

Kegemukan dianggap sebagai salah satu faktor risiko serangan kanker tertentu di Barat, tapi setakat ini belum jelas apakah penyakit itu menimbulkan risiko yang sama bagi orang Asia.

Studi juga sudah memperingatkan makin banyak anak Amerika bertubuh gemuk, dan mereka menghadapi resiko tewas lebih muda dibandingkan anak normal.